Pentingnya Dan Tips Menghafal Ilmu

Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi umat Islam, laki-laki maupun perempuan. Mulai sejak pertama kali melihat dunia sampai terakhir kali melihatnya. Tak ada batas waktu dan usia.

Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa ilmu bagi orang mukmin tak ubahnya permata yang hilang; di mana pun ditemukan mesti diambil dan dibawa pulang.



Lebih dari itu, saking berharga dan mulianya ilmu dalam Islam, orang yang belajar satu jam juah lebih baik di bandingkan dengan orang yang beribadah (sunnah) selama empat puluh tahun!

Maka, tidak heran jika ulama dahulu lebih fokus belajar daripada mencari dan mengumpulkan materi. Rela berkelana ke berbagai negeri hanya ingin belajar dan menimba ilmu.

Konon, stagnasi yang dialami umat Islam saat ini, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan, adalah dikarenakan hilangnya tradisi berkelana ke berbagai negeri untuk menimba ilmu (al-rihlah al-‘ilmiyah).

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah karena pelajar muslim saat ini lemah dalam segi menghafal ilmu. Lebih mengutamakan dan bergantung kepada tulisan. Tidak seperti ulama di masa lalu.

Ulama dahulu, selain ditulis, ilmu yang telah dipelajari juga dihafal di luar kepala sehingga lebih praktis. Jika dibutuhkan tidak perlu membuka dan membolak-balik kitab atau buku, tetapi cukup dengan membuka file memori dalam kepala mereka.

Imam al-‘A’masy berkata, “Hafal lah apa yang kalain pelajari. Sesungguhnya, orang yang belajar tetapi tidak menghafal seperti orang yang duduk di meja makan, mengambil sesuap demi sesuap makanan dan diletakkan di belakang punggungnya, maka kapan kamu akan melihat dia kenyang?!”

Jadi, menghafal merupakan aktivitas yang amat fundamental dalam menimba ilmu. Ilmu-ilmu syariat sampai kepada kita memelulai aktivitas menghafal.

Bahkan, andai tidak ada ulama yang menghafal sebagian besar kitab-kitab yang ditenggelamkan ke dalam laut oleh tentara Mongol, maka tentu peradaban umat Islam saat ini akan tambah terbelakang dan tertinggal dari peradaban umat lain.

Oleh karena itulah, berikut akan di ketengahkan beberapa tips mudah menghafal ilmu.

Pertama, memiliki niat yang baik.

Kunci segala kebaikan, kemudahan dan keberkahan dalam mencai ilmu ada pada niat yang baik. Ada sebuah atsar dari Ibnu Abbas ra bahwa beliau berkata, “Hafalan seseorang seleras dengan niatnya.”

Niat baik dalam mencari ilmu tercermin dari keikhlasan. Bukan dari akriditasi lembaga tempat ia belajar atau biaya yang mesti dikeluarkan.

Ikhlas dalam belajar berarti memiliki tujuan yang benar, yaitu murni karena ingin mencari ilmu atau menghilangkan kebodohan bukan karena ingin mencari pekerjaan, titel, ataupun superioritas terhadap orang lain.

Kedua, tidak melakukan perbuatan dosa dan yang dilarang oleh agama. Pacaran, misalnya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Menurutku, orang yang lupa terhadap ilmu dikarenakan dia melakukan kelasalahan yang ia ketahui.”

Imam Syafi’i juga pernah mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, perihal lemahnya hafalan beliau maka ia disarankan agar menjauhi dan meninggalkan perbuatan yang berbau maksiat.

Ketiga, mengamalkan apa yang telah dipelajari. Ilmu yang diamalkan, selain mudah diingat juga bisa menambah pengetahuan baru.

Imam Sufyan ats-Tsauri, mujtahid mutlak, berkata, “Ilmu mesti disambut dengan diamalkan. Jika tidak, maka dia akan pergi.”

Imam asy-Syi’bi, ulama tabi’in, berkata, “Kami menghafal Hadis dengan cara mengamalkannya.”

Keempat, memilih waktu yang cocok.

Memilih waktu untuk belajar dan menghafal amat urgen dilakukan, agar bisa fokus dan berkonsentrasi. Dengan fokus dan berkonsentrasi maka akan mudah paham dan hafal.

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ulama, waktu terbaik untuk belajar dan menghafal adalah pada waktu sahur, yaitu sekitar jam tiga pagi sampai subuh.

Pada waktu itu semua orang terlelap tidur, tidak ada kebisingan, dan tenang sehingga bisa fokus dan konsentrasi. Sebab, faktor utama orang sulit menghafal, kadang-kadang karena dipengaruhi oleh keadaan sekitar atau oleh kegalauan pikiran.

Namun demikian, setiap orang tentu berbeda. Ada yang mudah menghafal pelajarannya di waktu siang, sore, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, waktu belajar yang baik bagi setiap orang itu relatif, bergantung kepada orangnya masing-masing.

Kelima, memilih tempat yang baik.

Selain waktu, tempat belajar juga memiliki pengaruh yang amat vital. Tempat yang baik, akan membuat seseorang mudah fokus dan berkonsentrasi sehingga mudah paham dan hafal.

Untuk keriteria tempat belajar yang baik bergantug kepada kecenderunagan masing-masing orang. Bisa jadi, di taman, di kebun binatang, di ruangan yang ber-AC, dan lain sebagainya.

Keenam, makan sedikit dan halal.

Kehalalan apa yang kita konsumsi juga amat berpengaruh terhadap daya hafalan kita, terutama dalam belajar ilmu syariat. Maka, apa yang kita konsumsi mesti jelas-jelas halal agar daya ingat kita semakin kuat.

Selain halal, juga ketika makan jangan sampai berlebihan. Orang yang makan terlalu kenyang, akan malas melakukan aktivitas apapun, kecuali tidur.

Ketujuh, bersungguh-sungguh dan konsisten dalam menghafal.

Tanpa ketekunan dan kesungguhan, kita akan mudah putus asa dalam belajar dan menghafal. Orang yang sungguh-sungguh tercermin dari konsistensinya.

Orang yang tidak konsisten, sudah pasti tidak sunguh-sungguh. Sebaliknya, orang yang sungguh-sungguh sudah pasti konsisten.

Kedelapan, mengeraskan bacaan saat menghafal.

Hal itu akan memudahkan seseorang dalam menghafal dibanding orang yang menghafal dengan cara memelankan suaranya. Sebab, dia akan bisa menghafal apa yang diucapkan dan apa yang ia dengarkan secara bersamaan.

Kesembilan, mengulang-ngulagi apa yang hendak dihafal.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi berkata, “Metode terbaik untuk menghafal adalah dengan cara mengulang-ngulangi. Terhadap hal itu setiap orang berbeda-beda. Ada yang bisa hafal dengan mengulanginya beberapa kali. Dan, ada yang harus diulangi berkali-kali. Imam Abu Ishaq mengulangi pelajarannya sampai seratus kali. Berkata kepadaku al-Hasan bin Abi Bakar al-Naisaburi, “Tidak bisa hafal, kecuali diulangi sebanyak lima pulah kali.”

Kemudian, apa yang sudah dihafal juga mesti ditakrar kembali agar tidak lupa. Lupa adalah penyakit ilmu yang paling akut.

Oleh karena itu, bagi para pelajar seyogyanya membuat modul atau jadwal untuk mengingat kembali apa yang sudah pernah dihafal. Misalnya, setiap satu minggu satu kali dan lain sebagainya.

Kesepuluh, mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat meningkatkan daya ingat. Seperti rutin mengkonsumsi madu, kurma, anggur, dan lain sebagainya.


MohNadi

Posting Komentar

Post a Comment (0)