Sikap Nahdliyin Menyikapi Keputusan PBNU Tentang RUU Cipta Kerja

Dalam masalah disahkannya RUU Cipta Kerja, warga Nahdliyin terbagi 2 kelompok, pertama yang mengikuti maklumat Pimpinan PBNU yang tegas menolak, kedua yang menyetujui adanya RUU Cipta Kerja yang dibuat oleh Pemerintah dan disahkan DPR. 


Inilah uniknya Nahdlatul Ulama, dalam berbagai permasalahan akan selalu ada pelangi yang justru bisa membuat lebih indah jika sama-sama tetap dibalut dalam Jalur Ahlussunnah wal Jama'ah. 





Polemik RUU Cipta Kerja memang sangat rumit, beberapa hari lalu saya menyarankan anda tidak perlu membacanya, sebab semakin anda baca semakin membuat anda bingung. 


Kenapa saya mengatakan banyak Hoax yang beredar, karena memang jika sudah membaca Draf nya akan menemukan perbedaan isi dari berita Hoax dengan isi draf yang ada, anda boleh searching di Google, Sosmed, atau di layar TV anda yang memuat berita Hoax tentang isi RUU Cipta Kerja yang berbeda dengan Draf nya. 


Dan lucunya Draf nya saja ada 2 versi, satu versi 1028 halaman, satunya versi 905 halaman, sementara hasil draf yang sudah disahkan DPR kemarin sampai sekarang belum muncul di kolom berita manapun baik di JDIH pemerintah maupun di sumber berita swasta, artinya isi lengkap dan detail Undang-Undang Cipta Kerja sampai detik ini rakyat belum bisa mengaksesnya. 


RUU ini merupakan gabungan dari 76 Undang-undang yang memuat pasal-pasal ribet dan bermasalah , untuk kemudian dijadikan satu Undang-Undang yang disebut Omni Bus Law, diambil dari kata Bus Omni dari Prancis yang bisa memuat banyak baik orang maupun benda. 


RUU Cipta Kerja memuat 1000 lebih pasal-pasal, jadi sebenernya bukan hanya tentang Buruh saja, tapi banyak sekali yang dibahas. Banyak yang menguntungkan, banyak juga yang merugikan. 


Kembali lagi ke Sikap Nahdliyin ke RUU ini, bagi mereka yang mengikuti maklumat Pimpinan PBNU, mereka akan bergabung dengan jutaan warga dari bersama elemen masyarakat yang ikut meramaikan penolakan. 


Bagi warga Nahdliyin yang menerima RUU ini, sudah barang tentu akan selalu Sami'na wa Atho'na kepada Pemerintah Pusat yang selalu dipuja-puji, maklum karena begitulah SEMANGKA, njabane ijo, Njerone Abang.

Posting Komentar

Post a Comment (0)