Negeri Syam, Negeri Penghasil Hafidz Tanpa Pesantren Tahfidz

Dinegeri syam ini dikenal sebagai salah satu penghasil ulama quran paling produktif di dunia, bagaimana tidak disinilah salah satu majlis tertua dunia ada, majlis alquran sahaby jalil sayidina abu darda Radhiyallahu anhu. 


Metode yang kita lihat hari ini dalam mengajarkan alquran dan menghafalkannya berawal dari beliau. Salah satu buku legendaris dalam ilmu tajwid mata jazariyah dan mungkin paling populer juga berasal dari sini, begitu juga dengan kitab legendaris yang sangat populer dalam ilmu qiraat, seperti taibah dan durrah. Ibnu jazary addimasyqy bisa dikatakan salah satu ulama paling penting dan berpengaruh dalam ilmu alquran berasal dari madrasah alquran syamiyah.


Dan tradisi itu terus berlanjut sampai hari ini. Beberapa nama besar pakar alquran dan qiraatnya didunia kontemporer tumbuh disini, seperti keluarga hilwani(salah satu keluarga qura paling terkenal didunia, karena ketinggian sanadnya), syeikh abdul aziz uyun sud, selain itu damaskus juga dikenal dengan syeikhul qura yang tujuh: syeikh kuraym rajih(salah satu pentahqiq hampir separuh mushaf di dunia), syeikh syukry luhafy, syeikh abdurazaq halaby, syeikh bakry tarabisyi(pemilik sanad tertinggi pada masanya), syeikh muhyiddin kurdy, syeikh muhammad sukar, syeikh khalil hiba. 



Ada juga beberapa ulama alquran yang masih di usia emas seperti syeikh samir annash dan syeikh aiman suwaid(salah satu mujadid dalam ilmu tajwid, buku beliau mungkin salah satu buku tajwid era modern yang paling laris), dan masih banyak ulama alquran lainnya baik yang kita kenal atau tidak.


Dan uniknya walau begitu banyak qura besar lahir di negeri syam, tapi sejauh pengetahuan saya, nyaris tidak ada ma'had/pondok khusus alquran disini, bahkan tidak ada juga markaz khusus alquran seperti dinegara lainnya. 


Aneh? Iya, tidak biasa memang. Lalu bagaimana mereka melahirkan para qura'? Mesjid dan Masyaikh. Dari sinilah para hafiz alquran lahir. Memang bisa fokus? Ya gak tau, faktanya seperti itu. Jadi siapa saja yang ingin menghafal alquran gak perlu mondok, silahkan ke mesjid terdekat yang ada tulisan makhad al-asad, insyaallah dapat guru untuk menghafal alquran. iya sih, didaerah lain juga ada yang seperti ini, hanya saja di syam sama sekali gak ada makhad tahfidz sama sekali, jadi hanya semacam TPA.  


Tanpa tempat penginapan. Jadi kesempatan menghafal alquran terbuka bagi semua, termasuk yang gak sempat mondok. Jadi mau kuliah apapun baik agama atau umum, atau kerja dimanapun baik masuk siang ataupun malam, atau berapapun umurnya baik balita atau sepuh, atau apapun jenisnya baik cewek atau cowok, semua punya kesempatan. 


Maka tak heran kita menemukan banyak hafiz lulusan agama, kedokteran, teknik, ekonomi, dll. Ada juga hafiz di usia tua, beberapa waktu lalu aku juga menemukan satu orang mulai hafal di usia 50an dan khatam di usia 60an, gak ada alasan terlambat karena memang gak dikejar waktu. Gak ada alasan juga gak ada waktu atau gak bisa mondok, baik lagi kuliah atau kerja semua punya kesempatan, karena banyak pilihan waktu, jadi fleksibel kapan saja memungkinkan.


Hanya saja dalam beberapa puluh terakhir ulama bekerjasama dengan pemerintah membuat jaringan yang dinamakan makhad al-asad untuk mengafal alquran, jangan dibayangkan ini seperti pesantren, dia tetap TPA mesjid tanpa penginapan dan tanpa kelas, hanya saja jaringan makhad al-asad dibuat untuk mengatur halaqah-halaqah alquran in agar para hafiz bisa tersebar gak numpuk disatu tempat, dengan begitui bisa menyebar luas agar bisa sampai diseluruh pelosok negeri. 


Dan hasilnya menakjubkan.Tapi dengan modal mesjid setempat, negara ini bisa sangat produktif menghasilkan penghafal Alquran. Semua gratis tis tis. Semoga bisa jadi pelajaran bagi kita. Intinya bukan di dana, tapi SDM dan keikhlasan, dan semua dimulai dari mesjid. 


Mesjid-mesjid penghasil ulama alquran semoga makin banyak didunia ini, terutama dinegeriku. Itu semua hanya bisa dicapai dengan ilmu dan keikhlasan, sebagaimana keikhlasan abu darda memulai tradisi itu 14 abad lalu dan tetap abadi hingga kini.


Oleh : Fauzan Inzaghi

Posting Komentar

Post a Comment (0)