Macron dan Sugi Nur

Dari sisi IQ, mungkin keduanya sangat berbeda. Ibarat perbedaan langit dan langit-langit. Namun keduanya memiliki sisi persamaan. Bisa jadi dari EQ. Kecerdasan emosional melihat perbedaan. Macron tak bisa membedakan kebebasan dengan penghinaan. Seperti halnya Sugi Nur yang tak bisa membedakan antara dakwah dengan sumpah serapah, antara pengajian dengan ajang cacian.


Baik Macron dan Sugi Nur adalah produk dari ekstrimisme. Macron muncrat dari kran sekularisme-ekstrim ala Prancis.

Ideologi yang dikritik oleh alm Mohamed Arkoun sebagai al-almanawiyah (sekularisme ekstrim, ultra-sekuler, atau sekularisme jadi-jadian, apapun istilah padanannya) BUKAN sekularisme (al-almaniyyah). Beda antara sekularisme dengan sekularisme-ekstrim kata Arkoun, pandangan dan sikap pada agama-agama. Sekularisme-ekstrim memusuhi agama, meminggirkan bahkan menendang jauh-jauh.

Sedangkan sekularisme tidak memusuhi agama, tapi mempelajarinya dengan penuh kesadaran kritis. Bagi Arkoun ada nilai-nilai humanisme (al-ansanah) yang bisa dipetik dari kajian-kajian keislaman.

Sugi Nur brojol karena ekstrimisme-Islam, seperti halnya ISIS yang mengaku aksi kebencian, pembunuhan dan terorisme diatasnamakan menjalankan ajaran Islam.

Kita masih bersyukur orang seperti Sugi Nur tidak memiliki posisi dan wewenang seperti Macron, yang dampaknya akan lebih luas.

Menghadapi Sugi Nur cukup dimasukkan ke dalam sel, agar dia belajar lagi mengaji, mulai dari menghafal huruf-huruf Hija'iyyah (orang kayak gini kok dipercaya sebagai ustadz dan Gus) dan menghentikan segala provokasi dan penyebaran kebencian.

Sedangkan terhadap Macron, kita berusaha membendung semburan energi negatif dari dia agar masyarakat kita tidak diadu-domba.

Contohnya pihak-pihak yang gencar mengecam Macron tapi sibuk membela dan percaya Sugi Nur.

gunromli.com

Posting Komentar

Post a Comment (0)