Cerpen: Kangen Nyantri

Kangen Nyantri

"Tet...teet... teeet...." suara bel sudah menunjukkan pukul 04.30

Suasana yang mulai terdengar aktifitas di kamar mandi, angin semriwing terasa menusuk tulang tubuhku yang gendut ini. Aku tidur di kamar lantai dua.

"Bangun-bangun, awas minggir" kata temanku yang saat ini piket kasur. Kasur untuk tidur rata-rata memang kasur lipat.

Tanpa ku tatap wajahnya, dari suaranya saja sudah tahu siapa dia, aku hanya menggeser tubuhku masih tetep bantal ikut ku geser dan aku pakai serta masih mata terpejam.

****

"Ndut.. bangun" suara mbak pengurus yang membangunkanku lagi

Mau tidak mau aku paksakan mata ini untuk terbuka, badan gendutku ini membuatku serasa berat untuk bangun. Aku masih duduk sementara untuk memulihkan kesadaranku. Seperti biasa, sudah ada temanku yang memakai mukena dan mengaji Al-qur'an, ada yang masih duduk sama denganku, akupun beranjak meletakkan  bantal di tempatnya.

Aku berjalan menuju kamar mandi, ku lihat teman-teman seperti biasa bersandar di dinding untuk mengantri, akupun ikut mengantri dan aku memberitahu yang lain.

"Antri nomer lima" kataku

@santriputrihits


Satu persatu teman-teman silih berganti keluar masuk kamar mandi, dan tiba giliranku masuk ke kamar mandi, meskipun dingin menerjang tubuh ini tetap saja aku lakuin.

*****

Suara Nadhoman teman-temanpun untuk menunggu sholat shubuh terdengar begitu merdu tanpa memakai alat pengeras suara.

"Bu nyai rawoh". Kata salah satu temanku.

Suara iqomah terdengar seruangan dilantai satu, sholat jama'ah pun dilaksanakan dengan khusuk.

*****

Pusing banget dan kaget, tiba-tiba penaku mencoret kitab di depanku.

"Man utawi sopo...." masih aku dengarkan guruku mengaji kitab.

Sambil memaknai kitab dengan huruf pgon.

Ngaji seperti ini suasanya tak kan ditemukan selain di majlis seperti ini.


*****

"Ayo, ini dapat lauk tadi Muyas dapat kiriman." Kataku.

"Ndut, kemana si Muyas?" Tanya Hanum.

"Masih keluar." Jawabku dan Riris barengan.

"Tadi, nyuruh makan duluan." Kata Zulfa temanku yang manis itu.

"Kering tempe teri ni kayaknya." Sahut Himma temanku sebelas dua belas gendutnya sama kyak aku yang baru datang ambil nasi.

"Pastinya kesukaannya bawa kering tempe teri. Dimakan nunggu mereka, keburu lapar melanda." Kata Yunin

"Emang keluar sama siapa si Muyas?" Tanya dewi yang penasaran sambil benahin kacamatanya yang tebal.

"Biasa, sama siapa lagi kalau keluar tidak sama Tina dan Wiwin." Jawab mbak Dian sambil membuka lauk kering tempe terinya.

"Hayuk lapar ni" ajak si Elis, teman yang berlesung pipi jika tersenyum.


*****

Yang awalnya tidak kenal jadi kenal bahkan seperti keluarga sendiri.

Teman mulai dari sabang sampai meraoke, beda suku, beda bahasa tapi tidak menyulutkan rasa perbedaan malah sebaliknya.

Bila ada yang sakit saling menjaga.

Bila ada yang sedih saling menghibur.

Bercanda, suka dan bahagia ala-ala kita tersendiri


Milikku bukan milikmu.

Milikku juga bukan milikmu.

Hanya saja aku meminjam tidak ngomong denganmu terlebih dahulu, itupun sebaliknya. Kadang juga tidak seperti itu.

Aku dan kamu sama-sama saling ridho.


Bahkan...

Gayung, bak, hanger, sandal dan lain-lain jadi saksi kita perna bersama-sama mengarungi samudra ilmu.


Dilatih untuk mandiri bukan dikekang, bukan pula dihukum, apalagi dipenjarakan. Mungkin sebagian merasa seperti dipenjara, ya penjara suci.

Tak terasa waktu telah tiba untuk perpisahan.

Kenangan hanya tinggal kenangan.

Waktu tak kan terulang lagi.

Teman-teman di pondok.

"Apa kabar kalian?"

"Kangen nyantri lagi."


Selamat hari santri saudara-saudaraku

Jombang, 22 Oktober 2020

Posting Komentar

Post a Comment (0)