Skip to main content

19 Mar 2020

Apa Perbedaan Syariat dan Fikih Secara Konstektual?

Syariat & Fikih

Seringkali kita tidak bisa membedakan keduanya, sehingga kita menjadi “alergi” dengan perbedaan pendapat.

Kita kan umat yang satu, kenapa harus berbeda pendapat?

Di bawah ini saya tuliskan sedikit penjelasan tentang syariat dan fikih. Sering kali kita tidak bisa membedakan keduanya sehingga kita menjadi “alergi” dengan perbedaan pendapat.



Dari penjelasan di bawah ini nanti akan terlihat bahwa kita bersatu pada masalah syariat dan dimungkinkan untuk berbeda pendapat dalam masalah fikih.

Syariat memiliki pengertian yang amat luas. Namun, dalam konteks hukum Islam, makna syariat adalah Aturan yang bersumber dari nash yang qath’i. Sementara itu, fikih adalah aturan hukum Islam yang bersumber dari nash yang zhanni.

Penjelasan singkat ini membawa kita harus memahami apa yang disebut qath’i dan apa pula yang disebut zhanni.

Nash Qath’i


Qath’i itu terbagi dua: dari sudut datangnya atau keberadaannya dan dari sudut lafalnya. Semua ayat Al-Qur’an itu merupakan qath’i al-tsubut. Artinya, dari segi “datangnya”, ayat Al-Qur’an itu bersifat pasti dan tidak mengalami perubahan. Hanya, tidak semua ayat Al-Qur’an itu mengandung qath’i al-dilalah. Qath’i al-dilalah adalah ayat yang lafalnya tidak mengandung kemungkinan untuk dilakukan penafsiran lain.

Jadi, pada ayat yang berdimensi qath’i al-dilalah tidaklah mungkin diberlakukan penafsiran dan ijtihad sehingga pada titik ini tidak mungkin ada perbedaan pendapat ulama. Sebagai contoh: kewajiban shalat tidaklah dapat disangkal lagi. Dalilnya bersifat qath’i, yaitu “aqimush shalah”. Tidak ada ijtihad dalam kasus ini sehingga semua ulama dari semua mazhab sepakat akan kewajiban shalat.

Begitu pula halnya dengan hadis. Hadis Mutawatir mengandung sifat qath’i al-wurud (qath’i dari segi keberadaannya). Hanya, tidak semua hadis itu qath’i al-wurud (hanya yang mutawatir) dan juga tidak semua Hadis Mutawatir itu bersifat qath’i al-dilalah. Dengan demikian, kalau dibuat bagan maka sebagai berikut.

Qath’i al-tsubut atau qath’i al-wurud: semua ayat Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir.
Qath’i al-dilalah: tidak semua ayat Al-Qur’an dan tidak semua Hadis Mutawatir.

Nash Zhanni


Zhanni juga terbagi dua: dari sudut datangnya dan dari sudut lafalnya. Ayat Al-Qur’an mengandung sejumlah ayat yang lafalnya membuka peluang adanya beragam penafsiran. Contoh dalam soal menyentuh wanita ajnabiyah dalam keadaan wudu, kata “aw lamastumun nisa” dalam Al-Qur’an terbuka untuk ditafsirkan. Begitu pula lafal “quru” (QS Al-Baqarah [2]: 228) terbuka untuk ditafsirkan. Ini yang dinamakan zhanni al-dalalah.

Selain Hadis Mutawatir, hadis lainnya bersifat zhanni al-wurud. Ini menunjukkan boleh jadi ada satu ulama yang memandang sahih satu hadis, tetapi ulama lain tidak memandang hadis itu sahih. Ini wajar saja terjadi karena sifatnya adalah zhanni al-wurud. Hadis yang zhanni al-wurud itu juga ternyata banyak yang mengandung lafal zhanni al-dalalah. Jadi, sudah terbuka diperselisihkan dari sudut keberadaannya, juga terbuka peluang untuk beragam pendapat dalam menafsirkan lafal hadis itu.


Zhanni al-wurud: selain Hadis Mutawatir
Zhanni al-dalalah: lafal dalam Hadis Mutawatir dan lafal hadis yang lain (Masyhur, Ahad).

Nah, syariat tersusun dari nash qath’i sedangkan fikih tersusun dari nash zhanni.

Di bawah ini contoh praktisnya
  • Kewajiban puasa Ramadan. (Nash-nya qath’i dan ini syariat.)
  • Kapan mulai puasa dan kapan Ramadan? (Nash-nya zhanni dan ini fikih.)

Catatan: hadis mengatakan harus melihat bulan, tetapi kata “melihat” mengandung penafsiran.

  • Membasuh kepala saat berwudu itu wajib. (Nash qath’i dan ini syariat.)
  • Sampai mana membasuh kepala itu? (Nasnya zhanni dan ini fikih.) 
Catatan: kata “bi” pada wamsahuu biru’usikum terbuka untuk ditafsirkan.

  • Memulai shalat harus dengan niat. (Nash qath’i dan ini syariat.)
  • Apakah niat itu dilisankan (dengan ushalli) atau cukup dalam hati? (Ini fikih.)

Catatan: sebagian ulama memandang perlu niat itu ditegaskan dalam bentuk “ushalli”, sedangkan ulama lain memandang niat dalam hati saja sudah cukup.

  • Judi itu dilarang. (Nash qath’i dan ini syariat.)
  • Apa yang disebut judi itu? Apakah lottere juga judi? (Ini fikih.) 

Catatan: para ulama berbeda dalam mengurai unsur suatu perbuatan bisa disebut judi atau tidak.

  • Riba itu diharamkan. (Nash qath’i dan ini syariat.)
  • Apa bunga bank itu termasuk riba? (Ini fikih.)

Catatan: para ulama berbeda dalam memahami unsur riba dan ‘illat (ratio legis) mengapa riba itu diharamkan.

  • Menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan. (Nash qath’i dan ini syariat.)
  • Apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (Ini fikih.)

Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak adalah pertanyaan yang keliru. Hal itu karena yang wajib adalah menutup aurat (apakah mau ditutup dengan jilbab atau dengan kertas koran atau dengan kain biasa). Masalahnya, apakah paha lelaki itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Apakah rambut wanita itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Para ulama berbeda dalam menjawabnya.

Dengan demikian, tidak semua hal kita harus berbeda pendapat. Juga tidak semua perbedaan pendapat bisa dihilangkan. Kita tidak berbeda pendapat dalam hal syariat, tetapi boleh jadi berbeda pendapat dalam hal fikih. 

Kalau ulama berbeda dalam fikih, tidak usah diributkan karena memang wilayah fikih terbuka beragam penafsiran. Juga tidak perlu buru-buru mengecap “ini bidah dan itu sesat” apalagi sampai menuduh ulama yang tidak sepemahaman sebagai ulama pesanan. Mari kita perhatikan dulu apakah
perbedaan itu berada pada level syariat atau level fikih.

Ditulis oleh : Gus Nadirsyah Hosen : (Ngaji Online Bareng Gus Nadir)

Beri Komentar