Skip to main content

19 Sep 2019

Kolaborasi Arsitektur UINSA dan Pesantren Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Prodi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi UINSA menyelenggarakan Simposium Nasional Pondok Pesantren di Amphiteater dengan mengangkat tema “Sinergi dan Kolaborasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren dalam Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals” acara dihadiri oleh KH Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed. ketua Asosiasi Pesantren NU (RMI PBNU), Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag. (Kasubdit Sarpras Diktis Kemenag RI), Ir. H. Muhammad Faqih MSA. PhD. (Arsitektur ITS Surabaya), dan Ir. Suci Purnawa, MM. (Kabid Kepala Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya Prov. Jatim). 

Khusnul Prianto, MT. sebagai ketua program studi arsitektur mengatakan “Prodi arsitektur Saintek UINSA siap membackup membuat master plan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren se-Jawa Timur sehingga bisa menjadi blueprint pembangunan pesantren ke depan” kegiatan ini dihadiri sedikitnya 100 Pondok Pesantren di lingkungan RMI.


Kalau dilihat dari sejarah pembangunan pondok pesantren zaman dulu kiai membangun kamar disesuaikan jumlah santri yang datang untuk mondok sehingga model bangunan pesantren tidak teratur, seiring dengan berjalannya waktu, meningkatnya kelas menengah perkotaan pertanyaan yang muncul oleh orang tua siswa baru bukan kurikulum apa yang diajarkan tetapi fasilitas-fasilitas infrastruktur seperti kapasitas kamar berapa orang, apakah ada AC-nya bagaimana dengan makanannya, cuci bajunya dll. Berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan orang zaman dulu yang bertanya kurikulumnya seperti apa, kiainya alumni pondok mana dan seterusnya.

Gus Rozin menjelaskan bahwa ada tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus mengenai SDG’s, pertama kesehatan, kedua pendidikan, ketiga air dan sanitasi. Selanjutnya Gus Rozin menjelaskan tentang pengawalan Rancangan Undang-Undang Pesantren (RUU Pesantren) itu bukan sebagai hadiah dari pemerintah namun posisi pesantren dan negara sebagai partnership (imbang), pesantren mempunyai beberapa keunggulan antara lain independensi pendidikan, otonom keuangan, terbebas dari intervensi. 

Keberagamaan dalam sistem pendidikan menjadi salah satu kekayaannya, pesantren tidak perlu di standarisasi justru keberagamaan merupakan kekayaannya, Sehingga RUU Pesantren jangan sampai tidak sesuai dengan kondisi pesantren dan kebaikan pesantren.

Beliau menjelaskan bahwa Pesantren mempunyai tiga fungsi : pertama sebagai lembaga pendidikan, kedua sebagai pengembangan masyarakat dan ketiga sebagai jalan dakwah, untuk itu pesantren perlu mitra strategis dalam membersamai serta mewujudkan tiga fungsi tersebut, fakultas sains dan teknologi UINSA hadir untuk itu.


Pak Suci Purnomo dari Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya. Menjelaskan tentang bagaimana peran Pemprov Jatim dalam peningkatan kualitas sarana dan prasarana untuk Rusunawa perguruan tinggi dan pesantren.

Ruchman Bashori menjelaskan fungsi Kementerian Agama RI tentang kebijakan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren, yaitu Rekognisi, Regulasi dan Fasilitasi. Kemudian Ir. H. Muhammad Faqih, MSA. PhD. merumuskan model sinergitas Pesantren, UINSA, Kemenag RI, Kemen PU PR, RMI (Rabitah Ma’ahid Islamiyah NU) dan Masyarakat mulai dari Research, Policy Making, Planing, Constructing, Financing, Controlling.

Acara juga dibuka langsung oleh Prof Masdar Hilmi sebagai rektor UIN Sunan Ampel Surabaya yang dilanjutkan dengan penanda tanganan nota kesepahaman (MoU) antara RMI PBNU (KH Abdul Ghafarrazin) dengan UIN Sunan Ampel Surabaya kemudia Gus Zaki Hadziq (RMI NU Jatim) beserta Dr. Hj. Eni Purwati (Dekan Fakultas Saintek UINSA). 

Acara dipandu oleh Abdulloh Hamid dosen fakultas sains dan teknologi UINSA yang sekaligus pengurus RMI PBNU berjalan antusias dan lancer, semoga dengan adanya acara ini menjadi mukaddimah awal untuk kerjasama-kerjasama selanjutnya (AH)
Beri Komentar